Minggu, 02 Februari 2014

HOW I MEET YOU, NOT YOUR BROTHER




Bagaimana dua orang bisa bertemu dan jatuh cinta? Bagi sebagian orang, sesimpel mereka sekelas di sekolah, mereka satu kelas di tempat les, atau sang guru membuat mereka duduk di satu meja. Bagi sebagian yang lain, tidak sesimpel itu. Bisa saja mereka bertemu di sebuah acara pentas seni, ketika si cowok sedang mau jalan ke dalam, bertemu si cewek, bertukeran pandanngan, dan dikenalkan oleh temannya ke cewek tersebut. Bahkan gue pernah lihat sendiri, ada yang bermula duduk di bioskop 21, tidak sengaja bertanya tentang jam, lanjut ngobrol, dan akhirnya malah lanjut makan bareng. Bagaimana orang bertemu memang aneh, absurd,kompleks. Tidak ada yang tahu kapan soulmmate bisa datang.

ᴥᴥᴥ

INI adalah bagaimana semesta berkonspirasi sedemikian dengan seorang Radith. Pertemuan gue dengan dia terjadi tanpa beban, seolah-olah terlihat tanpa usaha. Sebelumnya gue pernah ketemu dia beberapa kali di rumah orang yang perna gue taksir diem-diem. Dan ya tidak lain dia adalah adik dari orang yang gue pernah taksir itu. Kita juga pernah hampir ketemuan secara tidak sengaja di PIM. Ceritanya agak lucu, gue menulis di twitter kalo gue lagi di Starbucks PIM, dia juga lagi disana. Gue menunggu dia di starbucks, menanti-nanti, tapi dia tidak kunjung datang. Karna kelamaan dan udah ada janji juga, gue pergi duluan. Belakangan gue baru tau kalo gue menunggu di starbucks yang salah. Gue di starbucks PIM 1 dan dia di starbucks PIM 2. Hari itu, semesta tidak mengizinkan kita bertemu.
                Entah bagaimana ceritanya, sesudah pertemuan hampir batal itu, kita lalu saling nge-add blackberry messenger satu sama lain. Gue langsung mencari topik obrolan yang menarik untuk chatting dia. Dari obrolan singkat tentang film yag dia sedang tonton sampai ke naruto.
                ‘we should meet. And talk about life, music…and vampires’
Kata dia
                ‘yes, we should’ jawab gue
                Di starbucks PIM 1 kita janjian. Sambil menunggu dia yang udah di parkiran. Gue merasa degdeg-an. Setiap ada orang lewat, gue selalu memperhatikan apakah itu dia? Lalu pikiran gue maju jauh, membayangkan dia datang melalui pintu itu, ganteng dan atraktif. Dia pasti memakai baju yang bagus, rapi, dan wangi. Memilih baju adalah hal yang paling sulit buat ketemuan seperti ini.
                on the way kesana’ katanya di BBM
                Okay. Take your time’ balas gue.
                Semakin deg-degan, jantung gue rasanya pengen keluar dari dada gue dan loncat kemana-mana.
                ‘hey’ katanya. ‘udah lama?’
                ‘baru kok’ jawab gue
                Kita pun akhirnya duduk dan memulai pembicaraan dengan basa-basi kecil. ‘ini kayak di scripted ya?’ Tanya gue. Membayangkan pertemuan ini seperti di tulis di sebuah film komedi romantic yang gagal tayang. Cara paling mudah untuk tahu apakah kita cocok dengan orang tersebut atau tidak adalah ketika kita merasa lupa waktu. Perbincangan gue dengan dia seperti masuk ke dalam time warp. Enggak terasa udah tiga jam begitu saja berlalu, dan yang tadinya pertemuan kita dengan satu cangkir kopi harus diakhiri karena pelayan-pelayan mulai menaikan kursi dan mematikan lampu. Setelah itu gue diantar dia pulang. Sesampai dirumah, gue menulis PM di blackberry messenger gue : “I love time warping.”  Dan dia membalas “me too”. Dan gue, baru tahu, bahwa satu kalimat yang ditulis oleh seseorang bisa  membuat kita gak bisa tidur semalaman.

ᴥᴥᴥ

KITA lalu janjian untuk sebuah date yang proper, gak Cuma ngopi doang. Lewat telpon, kita coba untuk having dinner yang enak, lalu ngobrol panjang untuk saling kenal lebih jauh. Namun, sebagai seorang musisi, dia pasti banyak jadwal manggung, sedangkan gue lagi kosong aja.
                ‘kamis besok kosong gak? Pergi yuk’ kata gue
                ‘yaahhh…kamis ini aku gabisa’ katanya ‘aku ada manggung di JakCloth dan bantu ***** juga disana nanti’
                Dia melanjutkan, ‘kalau ketemu di JakCloth, gimana?’
                ‘Kalo gitu rencananya gini, aku bakal nonton kamu manggung, dan abis itu aku ke backstage nemuin kamu dan kita have a nice dinner together. Gimana?’
                that’s a good idea’ katanya
It is a date
Hari yang di tunggu pun tiba. Tadinya, gue mau janjian dulu sama dia, dia memberikan gue tiket untuk masuk dan gue akan nemenin dia selama manggung sampai selesai. Namun ternyata jalanan macet banget. Dia terburu-buru, dan gue juga kejebak macet di senayan. Dia udah siap-siap mau manggung, sementara gue masih kejebak macet. Karena waktunya udah mepet, dia BBM gue ‘how do you get in? tiketya ada di aku’ Gue membalas, ‘ don’t worry about me. Concentrate on your performance’
‘oke. Nanti aku bakal ada di stage Speak Denim’
Akhirnya setelah sampai, gue langsung ke stage tempat dia akan manggung. Setengah berlari, gue menuju stage Speak Denim. Gue akhirnya melihat dia. Agak aneh yang gue rasa saat ngeliat orang-yang-pernah-gue-suka-dulu satu panggung sama orang-yang-lagi-deket-ama-gue . Ya oke mereka kakak adek dan si doi  ini emang sering di minta bantuan untuk bantu perform abangnya ini. Tapi tetep aja gue aneh rasanya. Tapi walau begitu, gue nikmatin semuanya. Gue melihat dia bagaikan dewa yang berisinar. Rasanya, silau sekali.
Dia turun dari panggung, gue bilang, ‘tadi keren banget’
Dia bilang ‘aku kira kamu gabakal sempet nyampe sini’
‘tadinya aku fikir juga gitu’ kata gue sambil senyum
Tampaknya, semesta ingin gue melihat dia perform.

ᴥᴥᴥ

BEBERAPA  menit kemudian, di sinilah kita berdua, dinner di backstage, sebuah tempat makan yang tidak jauh dari Jakcloth. Hanya dalam beberapa jam aja kita tau kalau kita memiliki banyak kesamaan. Pulang dari backstage, kita lanjut nonton jazz di sebuah jazz club. Irama jazz di club hari itu juga membuat suasana malam menjadi cozy dan nyaman. Kita duduk di belakang, sementara beberapa lagu jazz standard dimainkan dengan perlahan. Gue nyender, dia juga nyender
‘kamu tau gak, aku suka banget sama jazz’ kata dia, sambil memperhatikan beberapa komposisi jazz yang sedang di bawain.
‘kenapa tuh?’ Tanya gue
‘musisi-musisi ini, di atas panggung mereka improvisasi. Memainkan lagu secara spontan. Tanpa latihan. Ini kayak mereka seolah-olah lagi ngobrol tanpa kata-kata. Konsep itu yang menurut aku menarik banget’ kata dia
                Gue melihat ke mata dia, namun sepertinya dia tidak sadar, terlalu terpaku dengan musik yang sedang di bawakan. Seperti yang musisi jazz ini lakukan di depan, kita berkomunikasi tanpa bicara. Gaya dia duduk, gaya gue duduk. Lalu gue menghela napas, duduk di sebelahnya dengan manis. Diam dalam kenyamanan. Tanpa kata-kata, gue mencoba untuk mengkomunikasikan bahwa gue, sudah jatuh cinta kepada dia.
                Begitu dia mengantar gue pulang, membukakan gue pintu, mengantar gue ke depan gerbang. Lalu gue melihat wajahnya sebentar, dan dia kembali kemobil. Begitu dia jalan, dia diem sebentar terus balik badan ke arah gue. Dia bertanya
                ‘tunggu bentar. Eh, ehm boleh…cium pipi?’
                 ‘boleh’ kata gue
                Dia datang ke arah pagar dan mencium pipi gue. Rasanya kayak mau mati. Di malam ini, gue gak pernah sedekat ini pada kematian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar