Bagaimana dua orang bisa bertemu
dan jatuh cinta? Bagi sebagian orang, sesimpel mereka sekelas di sekolah,
mereka satu kelas di tempat les, atau sang guru membuat mereka duduk di satu
meja. Bagi sebagian yang lain, tidak sesimpel itu. Bisa saja mereka bertemu di
sebuah acara pentas seni, ketika si cowok sedang mau jalan ke dalam, bertemu si
cewek, bertukeran pandanngan, dan dikenalkan oleh temannya ke cewek tersebut.
Bahkan gue pernah lihat sendiri, ada yang bermula duduk di bioskop 21, tidak
sengaja bertanya tentang jam, lanjut ngobrol, dan akhirnya malah lanjut makan
bareng. Bagaimana orang bertemu memang aneh, absurd,kompleks. Tidak ada yang
tahu kapan soulmmate bisa datang.
ᴥᴥᴥ
INI adalah bagaimana semesta berkonspirasi
sedemikian dengan seorang Radith. Pertemuan gue dengan dia terjadi tanpa beban,
seolah-olah terlihat tanpa usaha. Sebelumnya gue pernah ketemu dia beberapa
kali di rumah orang yang perna gue taksir diem-diem. Dan ya tidak lain dia
adalah adik dari orang yang gue pernah taksir itu. Kita juga pernah hampir
ketemuan secara tidak sengaja di PIM. Ceritanya agak lucu, gue menulis di
twitter kalo gue lagi di Starbucks PIM, dia juga lagi disana. Gue menunggu dia
di starbucks, menanti-nanti, tapi dia tidak kunjung datang. Karna kelamaan dan
udah ada janji juga, gue pergi duluan. Belakangan gue baru tau kalo gue
menunggu di starbucks yang salah. Gue di starbucks PIM 1 dan dia di starbucks
PIM 2. Hari itu, semesta tidak mengizinkan kita bertemu.
Entah
bagaimana ceritanya, sesudah pertemuan hampir batal itu, kita lalu saling
nge-add blackberry messenger satu sama lain. Gue langsung mencari topik obrolan
yang menarik untuk chatting dia. Dari obrolan singkat tentang film yag dia
sedang tonton sampai ke naruto.
‘we should meet. And talk about life, music…and
vampires’
Kata dia
‘yes, we should’ jawab gue
Di
starbucks PIM 1 kita janjian. Sambil menunggu dia yang udah di parkiran. Gue
merasa degdeg-an. Setiap ada orang lewat, gue selalu memperhatikan apakah itu
dia? Lalu pikiran gue maju jauh, membayangkan dia datang melalui pintu itu,
ganteng dan atraktif. Dia pasti memakai baju yang bagus, rapi, dan wangi.
Memilih baju adalah hal yang paling sulit buat ketemuan seperti ini.
‘on the way kesana’ katanya di BBM
‘Okay. Take your time’ balas gue.
Semakin
deg-degan, jantung gue rasanya pengen keluar dari dada gue dan loncat
kemana-mana.
‘hey’
katanya. ‘udah lama?’
‘baru
kok’ jawab gue
Kita
pun akhirnya duduk dan memulai pembicaraan dengan basa-basi kecil. ‘ini kayak
di scripted ya?’ Tanya gue.
Membayangkan pertemuan ini seperti di tulis di sebuah film komedi romantic yang
gagal tayang. Cara paling mudah
untuk tahu apakah kita cocok dengan orang tersebut atau tidak adalah ketika
kita merasa lupa waktu. Perbincangan gue dengan dia seperti masuk ke dalam time
warp. Enggak terasa udah tiga jam begitu saja berlalu, dan yang tadinya
pertemuan kita dengan satu cangkir kopi harus diakhiri karena pelayan-pelayan
mulai menaikan kursi dan mematikan lampu. Setelah itu gue diantar dia pulang.
Sesampai dirumah, gue menulis PM di blackberry messenger gue : “I love time warping.” Dan dia membalas “me too”. Dan gue, baru tahu, bahwa satu kalimat yang ditulis oleh
seseorang bisa membuat kita gak bisa
tidur semalaman.
ᴥᴥᴥ
KITA lalu janjian untuk sebuah date
yang proper, gak Cuma ngopi doang. Lewat telpon, kita coba untuk having dinner
yang enak, lalu ngobrol panjang untuk saling kenal lebih jauh. Namun, sebagai
seorang musisi, dia pasti banyak jadwal manggung, sedangkan gue lagi kosong
aja.
‘kamis
besok kosong gak? Pergi yuk’ kata gue
‘yaahhh…kamis
ini aku gabisa’ katanya ‘aku ada manggung di JakCloth dan bantu ***** juga
disana nanti’
Dia
melanjutkan, ‘kalau ketemu di JakCloth, gimana?’
‘Kalo
gitu rencananya gini, aku bakal nonton kamu manggung, dan abis itu aku ke backstage nemuin kamu dan kita have a nice dinner together. Gimana?’
‘that’s a good idea’ katanya
It
is a date
Hari yang di tunggu pun tiba.
Tadinya, gue mau janjian dulu sama dia, dia memberikan gue tiket untuk masuk
dan gue akan nemenin dia selama manggung sampai selesai. Namun ternyata jalanan
macet banget. Dia terburu-buru, dan gue juga kejebak macet di senayan. Dia udah
siap-siap mau manggung, sementara gue masih kejebak macet. Karena waktunya udah
mepet, dia BBM gue ‘how do you get in?
tiketya ada di aku’ Gue membalas, ‘ don’t
worry about me. Concentrate on your performance’
‘oke. Nanti aku bakal ada di stage
Speak Denim’
Akhirnya setelah sampai, gue
langsung ke stage tempat dia akan manggung. Setengah berlari, gue menuju stage
Speak Denim. Gue akhirnya melihat dia. Agak aneh yang gue rasa saat ngeliat
orang-yang-pernah-gue-suka-dulu satu panggung sama
orang-yang-lagi-deket-ama-gue . Ya oke mereka kakak adek dan si doi ini emang sering di minta bantuan untuk bantu
perform abangnya ini. Tapi tetep aja gue aneh rasanya. Tapi walau begitu, gue
nikmatin semuanya. Gue melihat dia bagaikan dewa yang berisinar. Rasanya, silau
sekali.
Dia turun dari panggung, gue
bilang, ‘tadi keren banget’
Dia bilang ‘aku kira kamu gabakal
sempet nyampe sini’
‘tadinya aku fikir juga gitu’ kata
gue sambil senyum
Tampaknya, semesta ingin gue
melihat dia perform.
ᴥᴥᴥ
BEBERAPA menit kemudian, di sinilah kita berdua, dinner di backstage, sebuah tempat makan
yang tidak jauh dari Jakcloth. Hanya dalam beberapa jam aja kita tau kalau kita
memiliki banyak kesamaan. Pulang dari backstage, kita lanjut nonton jazz
di sebuah jazz club. Irama jazz di club hari itu juga membuat
suasana malam menjadi cozy dan
nyaman. Kita duduk di belakang, sementara beberapa lagu jazz standard dimainkan dengan perlahan. Gue nyender, dia juga
nyender
‘kamu tau gak, aku suka banget sama
jazz’ kata dia, sambil memperhatikan
beberapa komposisi jazz yang sedang
di bawain.
‘kenapa tuh?’ Tanya gue
‘musisi-musisi ini, di atas
panggung mereka improvisasi. Memainkan lagu secara spontan. Tanpa latihan. Ini
kayak mereka seolah-olah lagi ngobrol tanpa kata-kata. Konsep itu yang menurut
aku menarik banget’ kata dia
Gue
melihat ke mata dia, namun sepertinya dia tidak sadar, terlalu terpaku dengan
musik yang sedang di bawakan. Seperti yang musisi jazz ini lakukan di depan, kita berkomunikasi tanpa bicara. Gaya
dia duduk, gaya gue duduk. Lalu gue menghela napas, duduk di sebelahnya dengan
manis. Diam dalam kenyamanan. Tanpa kata-kata, gue mencoba untuk
mengkomunikasikan bahwa gue, sudah jatuh
cinta kepada dia.
Begitu
dia mengantar gue pulang, membukakan gue pintu, mengantar gue ke depan gerbang.
Lalu gue melihat wajahnya sebentar, dan dia kembali kemobil. Begitu dia jalan,
dia diem sebentar terus balik badan ke arah gue. Dia bertanya
‘tunggu
bentar. Eh, ehm boleh…cium pipi?’
‘boleh’ kata gue
Dia
datang ke arah pagar dan mencium pipi gue. Rasanya kayak mau mati. Di malam ini,
gue gak pernah sedekat ini pada kematian.