Saat ini, gua jadi berfikir, proses pindah hati juga seperti pindah rumah. Terkadang, kita masih suka menbanding-mandingkan siapa pun yang kita temui dengan mantan pacar. Ketika kenalan sma seseorang, kita menbandingkan dengan kebiasaan mantan pacar kita. Kita membandingkan, secara sadar ataupun tak sadar, cara mereka berjalan, cara mereka berbicara, bahkan cara mereka mengakhiri pembicaraan di telepon. Seperti lazimnya orang yang masih tejebak di dalam masa lalu, orang yang lebih baru pasti kalah dari mantan kita yang sudah lama itu.
Ini mungkin alasan kenapa susah banget buat gue untuk menemukan yang baru, karena perjuangan untuk pindah adalah perjuangan untuk melupakan.
WAKTU mungkin obat yang palingbaik untuk semua luka. Setelah gue berdamai dengan masa lalu, gue baru bisa belajar untuk kembali punya hubungan.
Saat gue menulis ini, gue kembali pacaran. berangkat dari mencari orang yang membuat gue nyaman, gue pun kembali menjalin hubungan dengan seseorang yang lebih dewasa dari gue. Dia memang selalu ada buat gue, dan kesalahan apapun yang gue perbuat, dia pasti terima. Dia sayang sama gue apa adanya, bukan ada apanya. Dan, hal tersebut adalah perbedaan yang besar.
Bagi sebagian orang, rumah adalah kasur kecil yang di taruh di atas lantai kamar berukuran empat kali empat meter. Bagi orang lain, rumah adalah bangunan minimalis besar di daerah Kebayoran Baru. Bagi orang lain, rumah mereka adalah jalanan karena tidak punya rumah. Bagi orang yang lain lagi, rumah bermacam-macam karena propertinya banyak, tersebar di seluruh Indonesia.
Bagi gue, rumah adalah dia. Karena dia adalah tempat gue pulang. Kerena, orang terbaik buat kita itu seperti rumah yang sempurna. Sesuatu yang bisa melindungi kita dari gelap, hujan, dan menawarkan kenyamanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar